Contoh Khutbah Jumat | Penembak Jitu Network

Contoh Khutbah Jumat


Advertisement

Contoh khutbah jumat – Bagi kaum laki-laki yang beragama islam tentunya khutbah jumat ini sudah tidak asing lagi. Atau mungkin anda sedang mencari contoh khutbah jumat? Pada dasarnya setiap Anda mengikuti sholat jumat pasti khutbah jumat ini akan selalu menyertai.

Lalu apakah yang dimaksud dengan khutbah jumat. Khutbah Jumat adalah sebuah khutbah atau ceramah agama yang dilakukan seminggu sekali setiap hari jum’at, yakni sebelum melakukan shalat jum’at. Ada beberapa rukun dalam khutbah juamt, diantaranya adalah:

  1. Rukun Pertama bacaan Hamdalah – Hukumnya adalah wajib jika anda kan memulai khutbah jumat dengan membaca hamdalah. Sebagai contoh lafaz alhamdulillah, atau innalhamda lillah, atau ahmadullah.
  2. Rukun Kedua shalawat kepada Nabi SAW – Diucapkan dengan jelas dan lengkap, seperti ushalli ‘ala Muhammad,  atau ana mushallai ala Muhammad atau as-shalatu ‘ala Muhammad.
  3. Rukun Ketiga Washiyat untuk Taqwa – Berisi perintah atau ajakan untuk bertakwa dan takut kepada Allah.
  4. Rukun Keempat adalah membaca Teks ayat Al-Quran pada salah satunya – minimal ada satu kalimat dari teks mengandung ayat Al-Quran.
  5. Rukun Kelima doa untuk umat Islam di khutbah kedua – Diakhir khutbah jumat khatib mengucapkan lafaz yang doa yang intinya meminta kepada Allah kebaikan untuk umat Islam.

Dibawah ini ada contoh khutbah jumat:

Ciri-ciri Orang yang Bertakwa

Salah satu perintah Allah swt yang banyak disebutkan dalam al-Qur’an dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. adalah agar kita, orang-orang mukmin, berusaha mencapai tingkat/derajat taqwa. Taqwa kepada Allah swt. begitu penting, karena dengan taqwa ini, seseorang mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Allah swt. Taqwa adalah buah dari pohon ibadah. Ia merupakan tujuan utama dari setiap perintah ibadah kepada Allah swt. Perintah berpuasa misalnya bertujuan untuk meningkatkan derajat ketakwaan bagi orang-orang beriman. Taqwa yang sesungguhnya hanya diperoleh dengan cara berupaya secara maksimal melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-larangannya. Ketaatan ini adalah ketaatan yang tulus, tidak dicampuri oleh riya atau pamrih.

Banyak sekali ayat-ayat Allah maupun hadis Nabi saw. yang menekankan perintah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt. Di antarnya adalah firman Allah swt. :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. QS. Ali Imran 3:102.

Firman Allah tentang kedudukan orang-orang yang bertaqwa:

إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan”. QS. An-Naba’ 78:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan menadakan baginya jalan keluar. Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya”. QS. Ath-Thalaq 65: 2-3.

Taqwa kepada Allah artinya mempunyai kesadaran akan kehadiran-Nya. Allah selalu dekat dan menyertai kita, selalu mengawasi setiap perbuatan kita sehingga menimbulkan kesadaran agar kita senantiasa berhati-hati, jangan sampai menyimpang dari tuntunan, ajaran, dan ketentuan-ketentuan Allah swt. dalam kehidupan keseharian kita. Hal tersebut akan mendatangkan ketentraman dan ketenangan hati serta kesejahteraan dan keselamatan baik dalam kehidupan di dunia yang sebentar ini, maupun dalam kehidupan di akhirat yang langgeng kelak.

Apakah kita sudah berhasil mencapai tingkat taqwa tersebut? Hanya Allah swt. dan kita masing-masinglah yang mengetahuinya dengan tepat.

Salah satu ayat al-Qur’an yang membicarakan taqwa adalah surah al-A’raf ayat 26 sebagai berikut:

يابنى آدم قد أنزلنا عليكم لباسا يوارى سوءاتكم وريشا ولباس التقوى ذلك خير ذلك من ءايات الله لعلهم يذكرون

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi ‘auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat”.

Dalam ayat ini, Allah menyatakan bahwa Ia telah menyediakan dua macam pakaian bagi manusia:
Pertama, pakaian lahir yang mempunyai 2 (dua) fungsi pokok, yaitu untuk menutupi aurat atau melindungi fisik orang dari bahaya yang datang dari luar dan (fungsi kedua) sebagai hiasan.

Para ulama menjelaskan bahwa pakaian lahir yang disebut dalam ayat itu, di samping pakaian yang kita kenakan sehari-hari, berarti pula semua kenikmatan duniawi yang dianugrahkan Tuhan kepada kita yang memang kita butuhkan dalam hidup ini. Misalnya kesehatan badan, penguasaan ilmu pengetahuan yang luas dan dalam, perolehan rezeki/harta yang cukup, dan kekuasaan duniawi. Itu semua adalah perkara lahir yang dibuthkan manusia dalam hidupnya di dunia ini.

Kedua, pakaian batin, atau dalam ayat di atas disebut “pakaian taqwa”. Pakaian taqwa ini –menurut ayat di atas- ternyata lebih baik dan lebih pentng ketimbang pakaian lahir. Ini karena pakaian taqwa akan memperindah ruhani, hati dan jiwa manusia. Pakaian taqwa akan menentukan apakah pakaian lahir tadi bermanfaat atau tidak. Banyak orang berpakaian lahir, tapai tidak berpakaian taqwa, maka pakaian lahir tadi tidak memberikan manfaat apa-apa untuknya di dunia maupun di akhirat.

Al-Hasan al-Bashri, ulama besar yang hidup pada akhir abad VII M, dalam telaahnya tentang pengertian taqwa yang terkandung dalam surah al-A’raf ayat 26 di atas, mengungkapkan ciri-ciri orang yag bertaqwa kepada swt., sebagai berikut:

  • Teguh dalam keyakinan dan bijaksana dalam pelaksanaannya;
  • Tampak wibawanya karena seuma aktivitas hidupnya dilandasi kebenaran dan kejujuran;
  • Menonjol rasa puasnya dalam perolehan rezeki sesuai dengan usaha dan kemampuannya;
  • Senantiasa bersih dan berhias walaupun miskin;
  • selalu cermat dalam perencanaan dan bergaya hidup sederhana walaupun kaya;
  • Murah hati dan murah tangan
  • Tidak menghabiskan waktu dalam perbuatan yang tidak bermanfaat;
  • Tidak berkeliaran dengan membawa fitnah
  • Disiplin dalam tugasnya;
  • Tinggi dedikasinya;
  • Terpelihara identitas muslimnya (setiap perbuatannya berorientasi kepada terciptanya kemaslahatan/kemanfaatan masyarakat);
  • Tidak pernah menuntut yang bukan haknya serta tidak menahan hak orang lain;
  • Kalau ditegur orang segera intropeksi. Kalau ternyata teguran tersebut benar maka dia menyesal dan mohon ampun kepada Allah swt. serta minta maaf kepada orang yang tertimpa oleh kesalahannya itu;
  • Kalau dimaki orang dia tersenyum simpul sambil mengucapkan: “Kalau makian anda benar saya bermohon semoga Allah swt mengampuniku. Kalau teguran anda ternyata salah, saya bermohon agar Allah mengampunimu.

Kalau kita mempunya ciri-ciri seperti di atas, berarti kita pantas merasa telah mencapai tingkat ketaqwaan kepada Allah swt. dan tentu harus kita pelihara serta tingkatkan terus menerus. Pakaian taqwa dengan ciri-ciri seperti di atas yang telah kita perjuangkan; menenunnya/merajutnya dengan susah payah sepanjah hidup kita ini janganlah dirusak lagi. Semoga Allah swt. menuntun kita masing-masing untuk mencapai tingkat taqwallah seperti di atas.

 Semoga contoh khutbah jumat diatas dapat bermanfaat bagi Anda yang membutuhkannya. Anda dapat membaca artikel kami yang lain seperti contoh makalah mahasiswa dan contoh karya ilmiah.

     

No Comment to “Contoh Khutbah Jumat”

  1. Comments are closed.

Categories